Jalan Panjang Mewujudkan Agenda SDGs 2030


2020 merupakan tahun yang sulit karena pandemi COVID-19 yang menerjang dunia secara tiba-tiba. Beberapa poin SDGs memang menunjukkan kemajuan, namun pencapaiannya secara umum masih berada di luar jalur (off track) target yang telah dicanangkan.

Dampak pandemi COVID-19 menekankan urgensi negara-negara dunia untuk semakin berpegang pada target-target SDGs 2030, Paris Agreement on Climate Change, dan Addis Ababa Action Agenda dalam rangka membangun sistem respons dan pemulihan pembangunan yang kokoh, berkeadilan, dan berkelanjutan. High Level Political Forum, sebuah lembaga yang didanai oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), merilis laporan Sustainable Development Goals 2020 dalam rangka menghimpun pencapaian dan menandai wilayah pembangunan yang harus diprioritaskan.

Laporan ini menyoroti implikasi dan tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi. Rancangan aksi kolektif juga turut disusun tidak hanya untuk mengatasi pandemi, tetapi juga untuk melawan perubahan iklim, mengentaskan kemiskinan dan ketidaksetaraan, serta membangun masyarakat yang inklusif dan setara.

Siapa yang paling terdampak oleh pandemi dan konsekuensi apa yang dihasilkan? Berikut rangkuman lima temuan utama dari SDGs Report 2020.

1. Masyarakat Miskin

Pandemi COVID-19 telah memukul mundur 71 juta masyarakat rentan kembali menuju kemiskinan esktrem. Ini ditandai dengan peningkatan angka kemiskinan ekstrem terbesar pertama dunia setelah 20 tahun terakhir. Pencapaian pengentasan kemiskinan menemui kendala yang semakin besar mengingat angka kemiskinan ekstrem di dunia telah mencapai 700 juta jiwa. Belum lagi, ancaman menjadi pengangguran mengintai 1,6 milyar pekerja sektor. Di daerah urban, 1 dari 7 orang sangat rentan terkena dampak pandemi, terutama mereka yang hidup di wilayah kumuh dan memiliki hunian tidak layak serta sulit mendapat akses ke tempat tinggal layak, air bersih, dan pendidikan.

2. Perempuan dan Anak-anak

Dalam laporan SDGs Report on Gender, perempuan memikul beban berat selama pandemi. Lebih dari 75% tenaga kesehatan dunia didominasi perempuan sebagai garda terdepan perlawanan COVID-19. Perempuan juga lebih banyak melakukan pekerjaan yang tidak tetap di sektor informal dan berpotensi lebih sulit memulihkan diri ketika mengalami guncangan ekonomi.

Pelayanan kesehatan yang terfokus pada penanganan COVID-19 turut mengganggu akses ke pelayanan kesehatan reproduksi, sehingga menimbulkan kenaikan angka kehamilan remaja, kematian ibu saat persalinan, dan angka penularan penyakit menular seksual. Laporan lain juga menyatakan kenaikan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) selama karantina berlaku, yang mungkin disebabkan kegelisahan karena tidak merasa sejahtera.

Di sisi lain, penutupan sekolah  mengancam hak atas pendidikan sekitar 1,6 miliar anak di dunia dikarenakan akses seperti kepemilikan barang elektronik, listrik, dan internet belum merata. Terlebih, banyak anak, terutama perempuan, terancam tidak dikembalikan ke sekolah oleh keluarga karena dinikahkan atau dipekerjakan pada usia dini.

3.  Melebarnya Kesenjangan

Pandemi COVID-19 juga memperlihatkan kesenjangan dan ketidakadilan sosial. Kelompok marjinal, masyarakat adat, dan LGBT+ mengalami diskriminasi. Di Amerika Serikat, minimnya akses terhadap pekerjaan tetap dan pelayanan kesehatan masyarakat kulit hitam menyebabkan mereka dua setengah kali lebih rentan mengalami kematian akibat COVID-19 dibanding masyarakat kulit putih. Ini disebabkan sistem sosial masyarakat yang eksklusif dan diskriminatif, sehingga kelompok masyarakat tertentu kerap harus memilih opsi dilematis antara salah satu dari aspek kehidupan yang berhubungan, seperti antara kesehatan atau kelaparan.

4. Kenaikan Angka Kelaparan

Dunia juga diprediksi akan mengalami lebih dari dua kali lipat kesulitan pangan dibanding tahun 2019. Situasi buruk ini tidak hanya dipicu pandemi, tetapi juga perubahan iklim dan konflik horizontal yang melanda banyak wilayah. Hal itu belum ditambah dengan guncangan ekonomi yang mengganggu rantai produksi pangan dan naiknya angka kemiskinan, sehingga semakin menyulitkan akses terhadap pangan.

5. Ancaman Perubahan Iklim

Dunia telah meninggalkan target-target penanggulangan kerusakan lingkungan yang tertuang di dalam Paris Agreement on Climate Change, sebuah konvensi yang diinisiasi oleh PBB. Pandemi mengubah aktivitas manusia dalam jangka pendek dengan menurunkan emisi gas dan udara, serta memberi akses ke kualitas air yang lebih bersih, sehingga berimplikasi baik terhadap lingkungan hidup. Namun, tanpa adanya perubahan terhadap pendekatan baru dan komitmen yang lebih kuat menuju praktik-praktik ramah lingkungan, bisa jadi emisi akan semakin parah seusai pandemi atau bahkan melebihi angka sebelum pandemi terjadi.

Di Tiongkok saat ini, emisi karbon dioksida tengah naik lebih tinggi dibanding saat sebelum pandemi. Belum lagi,  2019 lalu juga merupakan tahun dengan temperatur terpanas dalam 10 tahun terakhir dikarenakan meningkatnya pengasaman laut (ocean acidification), degradasi lahan, serta kepunahan flora-fauna. Pandemi memberi dampak baik terhadap lingkungan dalam jangka pendek, tapi tidak menjamin kelestarian lingkungan hidup dalam jangka panjang.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan?

Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyatakan dengan tegas bahwa masyarakat dunia tidak dapat kembali pada cara-cara lama yang dapat memperburuk dampak krisis. Perlu perubahan sistemik dan komitmen besar dari berbagai pemangku kepentingan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan, inklusif, dan responsif gender. Berbagai lapisan masyarakat tengah bahu-membahu melakukan perubahan. Gerakan akar rumput bermunculan mengatasi permasalahan yang terjadi selama pandemi.

SDGs Report 2020 dapat menjadi panduan bagi pelaku-pelaku pembangunan untuk mengenali kondisi dan tantangan yang sedang dihadapi bersama dan sebagai sumber inspirasi yang dapat memercikkan semangat perubahan dengan prinsip leave no one behind.

Laporan lengkap The Sustainable Development Goals Report 2020 dapat diunduh selengkapnya di sini!

Sumber:

The Sustainable Development Goals Report 2020. United Nations. Juni 2020



Penulis: Maudy J. Bestari
Enumerator:

Masuk