Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) tidak akan maksimal tanpa keterlibatan anak muda. Anak muda merupakan satu dari sembilan kelompok utama yang berkolaborasi dengan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memastikan partisipasi yang representatif dari seluruh lapisan masyarakat. InI diperlukan untuk memastikan tercapainya Agenda 2030 melalui penyelesaian masalah yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Apa saja masalah pembangunan yang erat kaitannya dengan anak muda?

Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik menjabarkan keterkaitan anak muda dan SDGs dalam Buku Saku United Nations dan SDGs untuk Anak Muda. Secara garis besar, anak muda menghadapi beberapa permasalahan genting yang harus dituntaskan dalam Agenda 2030:

1. Bayang-Bayang Kemiskinan

Di tahun 2019, sekitar 10% populasi Indonesia hidup dalam kemiskinan ekstrem -  dimana 13 persennya meliputi anak-anak dan remaja. Kemiskinan dari segi pendapatan paling banyak dialami anak-anak di usia lebih muda dan secara bertahap menurun seiring bertambahnya usia.

Ketimpangan juga menjadi salah satu masalah serius. Jika dibandingkan, anak-anak diwilayah pedesaan jauh lebih berisiko mengalami kemiskinan bukan hanya dari segi pendapatan, tetapi mengalami deprivasi: kekurangan sarana sanitasi, imunisasi tidak lengkap, tidak memiliki jaminan kesehatan, gizi tidak sesuai, kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan dasar, kelahiran tidak tercatat, kondisi hunian tidak layak, dan masih banyak lagi.

2. Ancaman Beban Masalah Kesehatan

Asupan gizi yang tidak tepat ketika remaja bisa menimbulkan efek seumur hidup. Remaja di Indonesia menanggung tiga beban malnutrisi: kurang gizi ataupun berat badan berlebih. Sekitar 12% remaja lelaki (16-18 tahun) mengalami kondisi kurus dan 29?rtubuh pendek. Sementara itu, 4,3% remaja perempuan bertubuh kurus dan 25?rtubuh pendek. Angka remaja usia 16–18 tahun dengan berat badan berlebih juga naik dari 1,4% di 2010 menjadi 8,1% di 2018.

Mengingat remaja  berada dalam proses pertumbuhan, kualitas gizi yang rendah membuat pertumbuhan fisik dan kognitif mereka tidak optimal. Selain itu, pola hidup yang tidak sehat dan paparan terhadap produk-produk berisiko kesehatan, seperti alkohol dan rokok juga menjadi ancaman di masa depan. Lebih dari separuh (55,3%) remaja lelaki usia 15–19 mengaku mengonsumsi tembakau setiap hari dan 15,5% mengonsumsinya sesekali.

Cara Anak Muda Terlibat dalam Penuntasan Masalah SDGs

Pemuda dapat memberikan energi, kreativitas, dan dinamika baru untuk menyikapi segudang tantangan global saat ini. Lahirnya berbagai inisiatif, start-up, dan wirausaha sosial yang dipelopori anak muda menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi dalam menangani berbagai masalah pembangunan. Untuk itu, PBB mendorong kaum muda untuk terlibat proses pembuatan kebijakan dengan memastikan bahwa suara mereka didengar, terjadi pertukaran pengetahuan antar generasi, serta terjadi proses penciptaan inovasi dan pemikiran kritis di segala usia untuk mendukung perubahan komunitas.

Berikut beberapa contoh inisiatif keterlibatan anak muda dalam upaya pencapaian SDGs :

1. Kampanye Menolak Keterjangkauan Rokok di Kalangan Anak Muda

Mendukung agar rokok jauh dari jangkauan anak muda dan remaja, sebuah kampanye dari tim Sebelah Mata Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) yang didukung oleh tim Campaign for Tobacco Free Kids menyelenggarakan kampanye #KarenaMurah, maka #RokokHarusMahal. Sejak tahun 2019, kampanye ini telah menggerakkan suara lebih dari 50 anak muda untuk kenaikan cukai tembakau melalui kampanye dan advokasi kreatif. 

2. Yes I Do

Rutgers WPF Indonesia, Plan International Indonesia, dan Aliansi Remaja Independen meluncurkan aliansi Yes I Do. Aliansi ini berkomitmen mencegah perkawinan anak, kehamilan remaja, dan praktik berbahaya bagi organ reproduksi perempuan. Yes I Do menerapkan program pencegahan berbasis komunitas di Kabupaten Rembang, Sukabumi, dan Lombok Barat, daerah yang cukup tinggi kasus-kasus terhadap kerentanan perempuannya.

3. Garda Pangan

Program ini merupakan inisiasi 3 anak muda yang dalam mengatasi masalah food waste (pembuangan makanan) oleh katering-katering pernikahan. Dalam misi “penyelamatan makanan” agar tidak menumpuk menjadi sampah yang sia-sia, mereka memeriksa kembali kualitas makanan catering yang tersisa untuk dikemas ulang dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan di Surabaya. Program ini juga menjadi salah satu penerima dana hibah dari Forum for Young Indonesians di 2017.

Simak lebih jauh masalah-masalah dalam SDGs yang erat kaitannya dengan anak muda di Handbook UN and SDGs for Youth

Sumber :

Situasi Anak di Indonesia. UNICEF. Juli 2020

UN and SDGs: A Handbook For Youth. UN-ESCAP 2017

COVID-19 dan Anak-anak di Indonesia. UNICEF. Mei 2020.

 



Penulis: Nadhira Febianisari
Enumerator: Amru Sebayang, Ika Kartika Febriana

Masuk