Dampak Pandemi Virus Corona Terhadap Pencapaian Kesetaraan Gender


Pandemi COVID-19 menampilkan kerentanan sistem kesehatan dunia, terutama bagi kelompok marjinal dan rentan. Inimenunjukkan pencapaian cakupan kesehatan semesta membutuhkan perhatian yang lebih besar terhadap beragam kebutuhan kelompok, mulai dari perempuan, laki-laki, hingga kelompok non-biner. 

Sebagai salah satu respons terhadap pandemi COVID-19, entitas PBB untuk urusan perempuan, United Nations Women(UN Women), mengeluarkan laporan mengenai dampak pandemi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan nomor 5 yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Berikut beberapa dampak pandemi COVID-19 terhadap pencapaian kesetaraan gender yang kami rangkum dari laporan tersebut:

1. Dampak Kesehatan 

Terbatasnya ruang gerak tenaga kesehatan melakukan intervensi membuat akses penanganan kesehatan non-COVID-19 seperti pengecekan kehamilan  dan kesehatan reproduksi terhambat. Data menunjukkan adanya peningkatan kehamilan selama masa pandemi karena terbatasnya akses ke kontrasepsi dikarenakan terganggunya rantai pasokan dan permintaan, serta pembatasan pergerakan ke apotek atau layanan kesehatan. 

 

2. Dampak Sosial-Ekonomi 

Tidak semua anak mendapatkan akses yang sama ke pendidikan jarak jauh karena berbedanya akses ke internet maupun peralatan elektronik. Tutupnya sekolah juga dapat mengakibatkan naiknya angka putus sekolah, sehingga berdampak pada munculnya kasus pernikahan dini dan kehamilan remaja. 

Perempuan juga cenderung menjadi kelas pekerja yang rentan karena posisi sosial yang dianggap lebih rendah dari laki-laki. International Labour Organization (ILO) menyebutkan sektor akomodasi dan pariwisata merupakan salah satu sektor yang sarat feminisasi karena didominasi oleh perempuan. Sayangnya, sektor ini merupakan salah satu yang paling terdampak pandemi COVID-19. 

Semakin besar beban perempuan di ranah domestik selama pandemi, dikarenakan anggota keluarga yang menetap di rumah, dapat membatasi pergerakan perempuan dalam partisipasi politik dan demokrasi, serta aktivitas sosial dan ekonomi. 

 

3. Ketidaksetaraan yang Saling Berkaitan 

Perempuan dan anak-anak lebih sulit mendapatkan akses ke air bersih, seperti yang dialami di Rwanda, Uganda, Thailand, dan Peru. Ini disebabkan oleh pembagian kerja rumah tangga dan sistem pengupahan yang bersifat patriarkis, yang lebih mengutamakan laki-laki dibanding perempuan dan anak-anak. 

Sementara, pekerja sektor informal, seperti pekerja seks komersial juga semakin rentan mengalami penyakit infeksius dan kekerasan seksual, dikarenakan tekanan sosial dan akses ke alat kontrasepsi yang semakin terbatas. 

Oleh karena itu, COVID-19 Response bekerja sama dengan UN WOMEN dan WOMEN COUNT merekomendasikan 10 prioritas kebijakan yang dapat menjadi acuan, khususnya bagi aktor dan pembuat kebijakan untuk merancang perlindungan sosial yang responsif gender.

 

SDG 1: mengentaskan kemiskinan

Meski banyak kelompok masyarakat yang terkena dampak langsung pandemi COVID-19, perempuan dari kelompok minoritas dan marjinal merupakan yang paling terpukul. Aktor dan pembuat kebijakan harus merencanakan pemulihan yang mendukung perempuan, terutama mereka yang kesulitan mendapatkan akses ke pekerjaan yang layak dan pelayanan kesehatan. 

SDG 3: memastikan hidup yang sehat dan sejahtera bagi semua

Pandemi COVID-19 menjadi tantangan bagi sistem kesehatan sehingga perlu ditanggulangi dengan segera. Aktor dan pembuat kebijakan harus memastikan alat pelindung diri (APD) tersedia bagi tenaga kesehatan dan kelompok populasi berisiko tinggi, seperti pekerja esensial dan lansia. Pembuat kebijakan juga perlu memastikan akses ke pelayanan kesehatan reproduksi. Selain itu, pertimbangan gender juga diperlukan dalam pelaksanaan surveilans melalui ketersediaan data yang tersegregasi dan penasihat kebijakan yang berlatar belakang studi gender.

SDG 4: memastikan anak mendapatkan akses pendidikan gratis, berkualitas, dan berkeadilan.

Pembuat kebijakan harus membuat alternatif pembelajaran jarak jauh untuk daerah yang minim akses internet, serta memastikan anak-anak, terutama anak perempuan, dapat kembali ke sekolah dengan aman setelah krisis pandemi berakhir.

SDG 5: memastikan kesetaraan gender

Pembuat kebijakan harus menghapuskan segala bentuk kekerasan, terutama eksploitasi dan perdagangan manusia. Bersamaan dengan itu, pembuat kebijakan juga harus mereformasi akses perempuan ke sumber daya alam, kepemilikan lahan, serta pelayanan finansial untuk mencapai kesetaraan nasional.

SDG 6: mencapai target akses terhadap sanitasi yang memadai dan berkeadilan

Kebutuhan terhadap sanitasi dan akses ke air bersih adalah kebutuhan esensial. Pandemi menyebabkan terbatasnya mobilitas masyarakat, sehingga menyulitkan akses ke air bersih. Pembuat kebijakan harus memfasilitasi akses ke sanitasi, terutama untuk kelompok perempuan dan anak-anak, dikarenakan mereka pada umumnya bertanggung jawab atas ketersediaan air keluarga.

SDG 8: mendorong kebijakan berbasis pembangunan yang mendukung terciptanya lapangan kerja, kewirausahaan, inovasi, dan pertumbuhan UMKM

Pandemi memberi dampak besar terhadap sektor usaha. Dalam situasi pandemi, perusahaan cenderung memutus hubungan kerja karyawan untuk menyesuaikan neraca keuntungan, sehingga meningkatkan angka pengangguran. Pembuat kebijakan perlu mengusahakan kemunculan inisiatif berwirausaha untuk mendorong lahirnya lapangan kerja, terutama pada sektor UMKM. 

SDG 11: memastikan akses masyarakat mendapatkan rumah dan perbaikan area kumuh

Pandemi memutus akses ke pekerjaan layak. Hal ini menyebabkan peningkatan angka relokasi dan penggusuran, terutama bagi tempat tinggal yang dibayarkan melalui sewa. Pembuat kebijakan perlu mencegah terjadinya relokasi dan menjamin hak atas tempat tinggal yang layak bagi setiap kelompok masyarakat yang terdampak oleh pandemi.

SDG 17: meningkatkan kualitas data yang tersegregasi

Pandemi berdampak pada seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebab itu, pembuatan kebijakan harus didasarkan data berbasis pendapatan, jenis kelamin, umur, ras, etnis, status migrasi, status disabilitas, keadaan geografis, dan karakter lain yang relevan dengan konteks nasional. Hal ini dilakukan untuk memastikan adanya analisis dampak COVID-19 secara menyeluruh untuk setiap kelompok masyarakat.

Tentu, catatan di atas tidak mampu merangkum semua rekomendasi UN Women. Laporan lengkapnya dapat diakses di sini!

 


Sumber:

Spotlight on gender, COVID-19 and the SDGs: Will the pandemic derail hard-won progress on gender equality. UN Women. 2020. 



Penulis: Maudy J. Bestari
Enumerator:

Masuk