Dampak Pandemi Virus Corona Terhadap Pencapaian SDGs Indonesia


Masyarakat dunia hari ini sedang berperang bersama melawan virus corona yang merebak sejak Desember 2019 lalu di Wuhan. Dilansir dari laman resmi covid19.go.id, kasus kematian global mencapai lebih dari 300.000 jiwa, dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan kasus kematian tertinggi di Asia Tenggara (1.000 lebih jiwa per Mei 2020). Tidak hanya korban jiwa, pandemi turut menyebabkan kelesuan ekonomi dan krisis sosial di berbagai negara yang dapat memicu terhambatnya laju pembangunan, terutama pencapaian target-target Sustainable Development Goals (SDGs). Pandemi menerjang ketika negara-negara dunia tengah gencar-gencarnya mengejar ketertinggalan pencapaian target SDGs yang memang sejak awal diprediksi sulit tercapai di tahun 2030. Lantas, bagaimana dengan nasib pencapaian SDGs di Indonesia selama pandemi ini?

Efek domino pandemi, bukti keterkaitan yang kuat antar target pembangunan 

Gelombang pandemi virus corona menjadi tantangan besar bagi pencapaian SDGs di Indonesia. Perlu adanya penyusunan ulang prioritas kebijakan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat, terutama dalam tujuan Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDGs 3) yang menjadi aspek paling terdampak pandemi. Fasilitas Kesehatan sebagai garda terdepan penanggulangan wabah mengalami tantangan seperti kebutuhan peningkatan pengetahuan dan kapasitas, sumber daya tenaga kesehatan yang tidak merata, krisis alat pelindung diri, serta minimnya tempat tidur/ruang perawatan. Kesenjangan kualitas dan kuantitas fasilitas kesehatan di setiap daerah juga menjadi salah satu penyebab terhambatnya penanganan pandemi yang kian menyebar. Belum lagi, penerapan kebijakan yang dinilai para ahli tidak berpihak pada kesehatan masyarakat dan mengacu pada data hasil penelitian ilmiah.

Tidak hanya berdampak pada pencapaian target pembangunan di bidang kesehatan, pandemi virus corona menimbulkan dampak nyata di bidang ekonomi. IMF (International Monetary Fund) mengestimasi bahwa dunia kini tengah memasuki gerbang resesi ekonomi dengan proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi global mencapai -3. Di dalam negeri, Bank Indonesia bahkan telah merevisi angka pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 dari  4,2% menjadi 2,2%. Hal ini berimbas pada penurunan pendapatan usaha, sehingga banyak perusahaan mengambil langkah pemangkasan operasional, salah satunya dengan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Data Kementerian Tenaga Kerja per April 2020 mencatat ada lebih dari 2.000.000 orang yang ‘dirumahkan’ oleh perusahaan. Pencapaian target Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (SDGs 8) terancam semakin terhambat.  Padahal, pencapaian target tersebut secara langsung berpengaruh pada pencapaian target-target pengentasan kemiskinan (SDGs 1) dan Kelaparan (SDGs 2).

Krisis sosial-ekonomi yang dialami masyarakat memperpanjang daftar komplikasi yang ditimbulkan oleh virus corona, seperti maraknya kasus kriminal perampokan dan pencurian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), penimbunan barang esensial dan perilaku panic buying yang memicu kelangkaan. Berdasarkan data Kepolisian Republik Indonesia, terjadi peningkatan kriminalitas sebesar 19,72% antara Februari dan Maret 2020. Kasus tersebut mengindikasikan bahwa ketidakpastian ekonomi dan keamanan pangan turut mempengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Sementara itu, kekerasan dalam rumah tangga juga meningkat di beberapa daerah di Indonesia, salah satunya Yogyakarta. Menurut lembaga pendampingan dan konseling kekerasan terhadap perempuan di Yogyakarta, Rifka Annisa, kenaikannya mencapai 100%.

 

Kolaborasi dalam meminimalisir dampak pandemi terhadap pencapaian SDGs 

Senada dengan rekomendasi kebijakan yang dikeluarkan UN DESA (United Nations Department of Economic and Social Affairs), keberhasilan penanganan COVID-19 di berbagai negara bertumpu pada kolaborasi masyarakat, ilmu pengetahuan, serta kebijakan yang berbasis pada data. Tercatat sejak World Health Organization (WHO) menetapkan virus corona sebagai pandemi, bermunculan berbagai koalisi masyarakat sipil dengan inisiatifnya masing-masing di seluruh Indonesia. Semangatnya sama, menjalankan upaya dalam mengisi celah-celah penanggulangan virus corona yang belum disasar pemerintah secara optimal. 

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam #BersamaLawanCorona per 10 Juni 2020, terdapat 2.432 aktivitas yang tersebar di 34 provinsi di seluruh Indonesia dengan persentase 23,4?ntuan non-tunai dan 76,6% bukan bantuan non-tunai. Salah satu inisiatif multi-sektor untuk memantau proses pembuatan kebijakan dalam penanganan pandemi virus corona adalah Solidaritas Berantas COVID 19 (SBC). Sejumlah aktor organisasi masyarakat sipil, pemerhati kebijakan, praktisi kesehatan, serta sektor bisnis yang tergabung dalam SBC menjalankan inisiatif dari mulai distribusi alat rapid test, RT-PCR, dan pelindung diri ke beberapa rumah sakit yang membutuhkan, sampai dengan pelaksanaan RT-PCR bagi tenaga kesehatan di RS Haji Jakarta. 


Referensi:

https://katadata.co.id/telaah/2020/04/22/mewaspadai-ancaman-krisis-ekonomi-panjang-imbas-pandemi-corona

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4992980/sampai-kapan-jumlah-phk-terus-bertambah

https://www.un.org/development/desa/dpad/publication/un-desa-policy-brief-62-the-covid-19-pandemic-a-wake-up-call-for-better-cooperation-at-the-science-policy-society-interface/

https://blogs.imf.org/2020/04/14/the-great-lockdown-worst-economic-downturn-since-the-great-depression/

https://kemlu.go.id/portal/en/read/466/berita/indonesia-shares-its-successful-sdgs-achievement-at-un-headquarter

https://www.tempo.co/dw/2347/di-masa-pandemi-corona-perempuan-indonesia-lebih-rentan-alami-kdrt

https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-indonesia-casualti/exclusive-more-than-2200-indonesians-have-died-with-coronavirus-symptoms-data-shows-idUSKCN22A04N

https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-52713350 



Penulis: Maudy J. Bestari, Ika Kartika Febriana, Nadhira Febrianisari
Enumerator:

Masuk