Gender, Kesehatan, Pandemi Virus Corona, dan Pencapaian SDGs


Konsep Universal Health Coverage (UHC) di dalam sistem kesehatan seringkali membuat kita semua lupa bahwa kesehatan tidak netral gender. Artinya, setiap kebijakan yang dikeluarkan tidak berdampak sama bagi perempuan dan laki-laki. Ada banyak faktor di luar kesehatan yang menyebabkan laki-laki dan perempuan tidak memiliki akses yang sama ke kesehatan yang seharusnya berlaku secara universal. Hal ini kemudian menjadi satu lagi bukti kuat betapa eratnya keterkaitan antar tujuan pembangunan global (SDGs) yang tidak bisa dikesampingkan salah satunya.

 

Pandemi memberikan pukulan yang lebih keras kepada perempuan

Sama seperti sistem kesehatan yang tidak netral gender, pandemi virus corona juga memberikan dampak yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Dan sayangnya, dampak buruk pandemi virus corona yang cenderung lebih banyak dirasakan oleh kelompok-kelompok rentan, memberikan pukulan yang lebih keras bagi perempuan sebagai salah satu kelompok rentan dan marjinal.

Berdasarkan data United Nations (UN) Women dari beberapa negara berkembang Asia dan Pasifik, pandemi virus corona lebih mempengaruhi kesehatan mental perempuan dibandingkan laki-laki. Salah satu hal yang mempengaruhi hal ini adalah peningkatan tuntutan pekerjaan rumah tangga akibat situasi pandemi yang menyebabkan banyak orang harus berdiam diri dan beraktivitas dari rumah, termasuk pekerja dan pelajar. Data menunjukkan bahwa lebih dari 50% perempuan di negara lokasi survey UN Women melaporkan peningkatan tuntutan pekerjaan rumah tangga

Dari sisi ekonomi, pandemi virus corona juga ternyata lebih berdampak buruk bagi perempuan. Di hampir semua negara lokasi survey UN Women, lebih banyak perempuan mengalami pemutusan hubungan kerja atau pengurangan jam kerja, baik di sektor formal maupun informal. Di Bangladesh, kesenjangan persentasenya bisa mencapai 69%. Apabila tidak segera ditanggulangi, hal ini akan berdampak panjang bagi pencapaian kesetaraan ekonomi antara laki-laki dan perempuan yang pada situasi normal pun sulit tercapai. 

 

Data yang tersegregasi sebagai kunci mitigasi dampak buruk pandemi

Sayangnya, dampak pandemi virus corona yang begitu besar bagi perempuan belum disikapi secara seriusoleh banyak pihak. Menurut data World Health Organization (WHO) sampai dengan 6 Mei 2020, hanya 40% laporan kasus COVID-19 secara global yang tersegregasi datanya berdasarkan jenis kelamin dan kategori umur. Padahal, ketersediaan data yang tersegregasi berdasarkan jenis kelamin merupakan langkah awal yang harus diperhatikan untuk memitigasi dampak buruk pandemi bagi jenis kelamin tertentu. 

Ketersediaan data yang kurang maksimal di tingkat global juga turut terjadi di Indonesia. Di tingkat nasional, peta sebaran kasus COVID-19 yang disajikan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melalui website-nya tidak ada yang tersegregasi berdasarkan jenis kelamin dan umur. Sementara di tingkat pemerintah daerah, data pemantauan COVID-19 yang ada di website DKI Jakarta disajikan sedikit lebih baik. Masyarakat dapat melihat data orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan positif virus corona yang terpisah berdasarkan jenis kelamin dan umur, meskipun tidak ada data khusus yang menggambarkan dampak pandemi bagi masyarakat secara keseluruhan

Ketidaktersediaan data tersegregasi yang cukup di tingkat nasional bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan minimnya kebijakan yang responsif gender dan narasi yang berpihak pada kebutuhan perempuan dalam situasi pandemi ini. Padahal, apabila tidak ditanggulangi dengan cepat, dampak buruk pandemi terhadap perempuan dapat menimbulkan efek domino bagi pencapaian kesetaraan gender secara khusus dan pencapaian target-target SDGs secara keseluruhan. 


Referensi:

https://data.unwomen.org/resources/surveys-show-covid-19-has-gendered-effects-asia-and-pacific

https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/332080/WHO-2019-nCoV-Advocacy_brief-Gender-2020.1-eng.pdf?sequence=1&isAllowed=y

https://covid19.go.id/peta-sebaran

https://corona.jakarta.go.id/id/data-pemantauan

https://lakilakibaru.or.id/gender-dimensi-yang-hilang-dalam-penanganan-covid-19-di-indonesia/



Penulis: Ika Kartika Febriana
Enumerator:

Masuk